Friday, April 20, 2018

Working Memory , Hilangnya Kecekatan, Nalar dan Kebingungan

waznd.org

Working Memory

Setiap semester, saya selalu mengajar tipe mahasiswa yang berbeda-beda. Kadang saya berkata kepada asisten saya, “Kali ini mahasiswa saya pandai-pandai.” Ya, pandai menganalisis, me­lakukan sintesis, menyelesaikan tugas, aktif berpartisipasi, dan sedikit sekali yang tak menyelesaikan tugas.

Kelas seperti itu sangat cheerful, penuh kebahagiaan dan spi­rit perjuangan yang tak ada matinya. Mereka ikut ke mana saya pergi. Ya ke pulau terpencil, ya ke luar negeri. Hadir dalam seminar, ikut rekaman televisi, bermain dalam outbond , berjualan di kaki lima, nonton film, dan sebagainya. Mereka belajar teori sekaligus praktik. Tak mengeluh meski tugas lain juga seabrek-abrek. Melatih otak, keberanian, sekaligus melatih mental. Tetapi di lain kesempatan, saya juga menemukan kelas yang lemot.

Kata anak-anak muda, “Capek, deh!” Anehnya, adakalanya itu juga ada di kelas S-3 yang isinya para dosen, pejabat publik, atau manajer. Selain mereka kurang fokus, tidak jarang saya juga merasa sangat letih ibarat mendorong mobil yang mogok. Tentu saja ini bukan hanya ada di S-3. Kadang juga di program S-1 dan S-2. Sewaktu-waktu kita temui beberapa orang yang lemot mendominasi kelas. Sulit menganalisis, mudah lupa, dan cenderung abai. Akibatnya, kelas menjadi murung seperti kereta api yang lagi langsir.

Mereka hadir tanpa membawa ringkasan dan belum mem­baca buku saat datang ke kelas, “lupa” menyelesaikan tugas, mudah lupa terhadap teori-teori dan bacaan penting yang ba­ru diberikan seminggu lalu, dan seterusnya. Keluhan seperti itu ternyata juga ada di dua sisi: di antara para guru dan pe­gawai di dunia kerja. Belakangan ini kita juga banyak mende­ngar keluhan dari para manajer, birokrat senior, dan para gu­ru tentang hal yang serupa yang diamati mereka di dalam or­ganisasi mereka. Gejala apa ini?

Inilah yang disebut dengan working memory . Untuk menjadi manusia yang memiliki mental sebagai driver , tentu dibutuhkan working memory yang kuat. Artinya, tak mudah lupa dan sigap. Artinya, sistem memori bekerja dan selalu aktif, cekatan. Ini artinya pula, di awal dunia kerja, kita perlu melatih kembali working memory kaum muda agar pikiran mereka tetap aktif, menjadi lebih peduli, lebih cekatan, dan mampu berpikir cepat.

Coba Anda bandingkan mahasiswa-mahasiswa yang datang dari daerah pegunungan yang jauh dari kompleksitas kehidup­an, dengan mahasiswa-mahasiswa yang besar di kota-kota besar. Dilatih oleh lingkungan yang tenang, kurang tantangan, dengan guru-guru yang tak banyak menuntut akan jauh berbeda dengan mereka yang biasa dikejar-kejar, harus lari di tengah lalu lintas yang padat, awas di bus, awas di jalan, awas di kelas. Itulah awalnya.

Hilangnya Kecekatan

Sudah lama kita tidak mendengar kata kecekatan. Seakan-akan ke­cerdasan emosi dan IQ, nilai angka, adalah segala-galanya. Padahal, dulu para orangtua melatih anak-anaknya agar cekatan: cepat kaki-ringan tangan, segera jalankan tugas, bersihkan tem­pat tidur, dan seterusnya.

Belakangan, tubuh kaum muda kita cenderung menjadi agak malas, kurang gerak. Bahkan tanpa harus berpikir, banyak hal bisa datang sendiri.

Di negara-negara industri, problem seperti ini sudah la­ma disadari dan mereka mengambil langkah cepat untuk mem­perbaruinya. Tanpa kecekatan, produktivitas perekonomian suatu bangsa akan terhambat. Orang akan saling menunggu, menjadi penonton dan penumpang ( passenger ), bukan duduk di depan menjadi pengemudi ( driver ). Dijamin dengan upah minimum yang tinggi, suatu ketika mereka akan menjadi sangat menuntut walaupun produktivitasnya rendah.

Working me­mory atau kemampuan mengelola informasi dengan cepat adalah seperti kita melihat komputer yang sedang bekerja mengolah data besar.

Satu data datang, yang lain disimpan sementara, seperti se­buah “ post it notes ” yang menghubungkan pikiran kita dari satu info ke info lainnya. Informasi itu saling berhubungan satu dengan lainnya dan begitu terlatih, kita akan cekatan dalam bertindak, berpikir, dan mengumpulkan sesuatu. Work­ing memory adalah sebuah keterampilan yang dilatih se­dari dini untuk menyimpan beberapa informasi sekaligus, se­mentara informasi yang lainnya terus berdatangan dan kita harus memilih, mendahulukan satu di antaranya, namun tak melupakan yang datang lebih dulu.

Dengan begitu, kita akan tetap ingat terhadap tugas-tugas yang telah disampaikan, keputusan rapat terdahulu, dan se­terusnya. Tentu saja sejak lahir setiap anak memiliki kualitas working memory yang berbeda-beda. Namun jangan lupa, ada perbedaan mendasar antara lupa karena kualitas memori (seperti para orang tua) dengan pelupa karena mengabaikan. Se­cara alamiah kita mudah lupa, tetapi kita bisa mencatat atau merekamnya. Jadi, lupa juga bisa mencerminkan sifat meng­abaikan terhadap komitmen. Tentu saja, ini juga tergantung pada gizi, kebiasaan di rumah, bentuk permainan, dan lingkung­an seseorang berada. Tetapi, guru sering kali membanding-bandingkan anak yang satu dengan yang lain pada usia yang sama karena pada usia kronologis tertentu dipahami seorang anak sudah bisa melakukan beberapa hal sekaligus.

Misalnya, anak usia 5 tahun umumnya sudah memiliki ke­terampilan menyimpan satu-dua informasi yang diingat de­ngan baik. Sedangkan pada usia 10 tahun bisa tiga informasi, dan 14 tahun dapat menyimpan empat informasi lengkap. Tentu saja bukan hanya mengingat. Mereka juga melatih diri menghubungkan logika masing-masing informasi itu, sehingga pada usia dewasa mereka bisa cepat beradaptasi, tidak keras kepala bertahan pada logika-logika yang tak masuk akal, meski saling bertentangan.

Annie Stuart (2013), ahli pendidikan, mengatakan, orangtua dan pendidik sebaiknya mengenal kemajuan kualitas keteram­pilan working memory anak-anaknya. Janganlah kita membiarkan anak-anak hidup seenaknya, boleh melakukan apa saja, dan tidak bertanggung jawab. Maksud saya agar mereka selalu ingat beberapa hal yang menjadi tanggung jawabnya. Semua itu harus dilatih agar mereka kelak mampu menjadi pribadi yang unggul, bukan pelupa yang ignorant (mengabaikan) atau meremehkan.

Kenali tanda-tandanya, berikan tes tertulis dan kirim anak-­anak pada ahlinya untuk dilatih kembali, serta biasakan hidup sehat dalam berpikir. Ia memberikan serangkaian sinyal yang perlu diperhatikan orangtua. Kenali gejala-gejala disorder be­rikut ini: meninggalkan tugas sebelum diselesaikan (misalnya bermain tidak sampai tuntas sudah berpindah-pindah, makan tak mencuci piring), sering berkhayal tanpa kejelasan, tidak me­lakukan pekerjaan rumah yang diberikan sekolah, sering lupa jawaban yang sudah diketahui meski sudah angkat tangan, sering kali kacau dalam menata atau memasang suatu kesatuan, termasuk gagal menyusun dua kalimat yang berdiri sendiri menjadi satu.

Nalar dan Kebingungan

Memang, gagasan ber­pikir akan tampak dalam bahasa dan matematika, tetapi sumber­nya bisa jadi bukan dalam pelajaran yang diberikan para guru dalam bidang bahasa dan matematika. Sumbernya, sekali lagi, ada­lah pada keterampilan berpikir: executive functioning dan working memory yang meliputi banyak hal.

Anak kita perlu mengetahui di mana kekurangan dan ke­lebihannya. Karena mereka dilahirkan dan dibesarkan dengan kualitas yang berbeda-beda. Tentu saja tidak dapat dituntut hasil yang sama. Anak-anak tertentu misalnya mampu berhitung de­ngan angka-angka, yang lain perlu dilatih dengan cara men­dengarkan cerita, ada yang membutuhkan alat bantu visual, musik, dan seterusnya.

Pada waktunya, anak-anak yang dididik dalam keterampilan berpikir yang benar akan mampu keluar dari masalah yang di­hadapinya. Namun, sebagian lagi mungkin saja tak mampu ber­tarung dalam persekolahan biasa, bahkan gagal berinteraksi dalam medan kerja seperti eksekutif lainnya. Tetapi, bukankah dunia ini penuh pilihan? Dalam sebuah e-mail , seorang guru di Amerika Serikat mengaku pada usia 48 tahun ia baru menyadari bahwa sejak kecil menderita executive functioning disorder .

Guru-guru lain sudah lama melihat gejala itu pada diri­nya. Tetapi, ia baru mengikuti serangkaian tes tentang hal ini pada usia 48. Padahal, sehari-hari ia biasa mengajar anak-anak de­ngan learning disabilities . Rekan-rekan kerjanya sering me­nge­luh. Ia menjadi penyendiri dengan rasa percaya diri yang ren­dah, kariernya tidak begitu cemerlang, tetapi dibiarkan oleh lingkungan. Kini, pada usia 48, ia justru menjalani terapi dan merasa selalu ada jalan keluar. Tidaklah ini juga mungkin ter­jadi pada kita?

Cognitive Inflexibility

Anda mau tahu mengapa di sini banyak orang bergelar aka­demis tinggi kurang berhasil, kaku, bahkan frustrasi dalam hidupnya? Pertanyaan seperti ini juga banyak diajukan para sekjen kementerian yang tengah menggelorakan reformasi birokrasi. “Saya heran sekolahnya bagus-bagus, tetapi banyak yang sulit diajak maju dan tak punya inisiatif. Semuanya terpaku pada cons­traint .” Di dalam birokrasi itu sendiri, orang-orang hebat bukan tidak tahu masalah yang dihadapi, melainkan tak ber­daya mengatasinya. Semua orang bekerja under constraint, te­tapi kalau constraint selalu dijadikan alasan, ini sudah menjadi penyakit mental yang disebut cognitive inflexibility.

Tapi nanti dulu, pertanyaan serupa ternyata juga datang da­ri banyak manajer HR yang mulai “trauma” merekrut pegawai yang terlalu pandai, tetapi kurang bisa menerima pandangan lain yang berbeda. Saya pun menganggukkan kepala. Tapi bukankah itu juga terjadi pada mereka yang kurang pintar?

Anak-anak yang memiliki working memory yang kuat dan memiliki kemampuan berpikir kritis dan logis, bisa cepat sukses. Tetapi di mana kemampuan fleksibilitas dan kreativitasnya? Mengapa orang-orang hebat menjadi “kaku”, gagal melihat dan mengambil “kesempatan” emas yang bisa memajukan bangsanya?

Saya bisa bercerita panjang-lebar mengenai Ali (lihat boks Melatih Motorik Executive Functioning pada Anak), tetapi ce­rita ini mungkin juga ada di rumah Anda, di sekitar Anda. Betapa banyak anak-anak yang merindukan masa depannya dari para orangtua penuh kasih sayang. Anak-anak seperti ini belum membutuhkan calistung (baca-tulis-berhitung) seperti yang sering dipergunjingkan orangtua di depan sekolah yang membangga-banggakan anak-anaknya. Anak seakan-akan hebat sudah bisa membaca, berhitung, berbahasa Inggris, menghafal ayat, peta dunia dan sebagainya. Padahal ada fondasi yang ra­puh, yang sering luput dari perhatian kita. Dan itu hanya bisa dilihat dengan hati, dengan kepedulian.

Motorik kasar dan halus butuh perubahan sebelum mereka mengenal hal-hal besar yang sering diributkan guru-guru besar saat mendebatkan kurikulum. Ini modal dasar seorang ber­mental driver . Saya ingin mengajak Anda mengulurkan ta­ngan, meminjamkan kecerdasan untuk membantu mereka, bu­kan untuk adu ideologi, apalagi adu kelihatan pintar. Medan pengabdian dalam pendidikan sangat luas.

Anda, misalnya, tentu bisa bergabung dengan kitabisa.co.id untuk meminjamkan kepintaran Anda, untuk ikut me-lakukan perubahan. Karena, di luar sana ada banyak anak-anak berkebutuhan khusus yang perlu bantuan. Mereka kini sebagian sudah dewasa, sedang berpeluh keringat memasak minyak kayu putih di Pulau Buru, belajar di terminal, dan lain sebagainya. Sebab, perubahan itu memang butuh kolaborasi besar-besaran. Anak-anak kita pasti butuh kasih sayang kita, dan Anda pun pasti bisa.

waznd.org

Artikel Terkait

This Is The Newest Post


EmoticonEmoticon