Tuesday, April 17, 2018

Epilog Mempersiapkan Anak-Anak (dan Sumber Daya Manusia Kita)

waznd.org

Epilog Mempersiapkan Anak-Anak (dan Sumber Daya Manusia Kita)

M unculnya eksekutif-eksekutif andal tentu tidak lepas dari peran keluarga. Emirsyah Satar, Ignatius Jonan, Joko Widodo, Dahlan Iskan, RJ Lino, Sehat Sutardja, dan banyak eksekutif top Indonesia lainnya tentu tidak muncul begitu saja. Juga mereka tidak jadi he­bat hanya semata-mata karena training-training yang mereka dapatkan dari pendidikan formal di dalam perusahaan atau almamater mereka masing-masing. Sa­ma seperti Sano Ami, Theodore Roosevelt, dan Barack Obama.

Di seluruh dunia, benih-benih bagus ini pertama-tama dibentuk oleh keluarga, dari rumah. Oleh ka­rena itu, pada bab ini, saya akan menekankan pada as­pek executive functioning , semua modal ekonomi satu bangsa yang berasal dari pembentukan mental se­masa muda. Pembentukan mental itu mencakup keterampilan-keterampilan hidup dasar yang mem-bentuk fondasi kepemimpinan se­seorang, sekaligus fondasi ekono­mi satu bangsa.

Saya ajak Anda mengenang ke­jadian berikut. Ini tentang ki­sah anak berusia 13 tahun, yang sudah dilepas ayahnya mem­bawa mobil sendiri pada tengah malam dan berakibat kecelaka­an yang menewaskan banyak orang.

Pembentukan mental itu mencakup keterampilan-keterampilan hidup dasar yang membentuk fondasi kepemimpinan seseorang, sekaligus fondasi ekonomi satu bangsa.

Memang, ia ditemani sese­orang, tetapi ia juga masih ter­bi­lang bocah. Ia bukan mengemudi di dekat rumah dengan peng­a­wasan orangtua, melainkan di ja­lan tol, menempuh jarak yang ter­bilang jauh dari rumahnya di Pondok Indah. Kecelakaan maut itu terjadi pukul 00.45 WIB di KM 8 Jalan Tol Jagorawi. Dan apesnya, enam orang tewas, dan beberapa anak langsung menjadi yatim piatu.

Anda benar, itulah kasus yang menimpa putra selebritas Ah­­mad Dhani, AQJ (Abdul Qadir Jaelani, atau Dul) yang ka­susnya sudah diputus pengadilan belum lama ini. Kasus ini men­dapat perhatian luas di seluruh negeri. Menyangkut rasa keadilan dan menyentuh para pendidik tentang apa yang tengah terjadi di kalangan kelas menengah kita dan kaum muda.

Ini tentu sangat memprihatinkan. Namun, setiap kali me­li­hat bagaimana masyarakat mendidik anak-anak, saya sebenar­nya sangat khawatir. Tak dapat dimungkiri, tumbuhnya kelas menengah telah menimbulkan gejolak perubahan yang sangat besar. Dan ini menjadi benih lahirnya passenger nation , atau malah bad driver nation , yaitu bangsa yang disandera manusia-manusia bermental bad passenger atau bad driver .

Reaksi orangtua terhadap ancaman hedonisme di sini sangat ekstrem: Yang satu mengekang habis anak-anak dengan dogma, agama, dan sekolah sehingga melahirkan anak-anak alim yang amat konservatif. Corriveau, Chen, & Harris (2014) dalam stu­dinya menemukan, anak-anak yang dididik dengan cara yang demikian kelak akan kesulitan membedakan fakta dengan fiksi. Yang satunya lagi sebaliknya, memberi materi dan servis tiada batas sehingga menjadi amat liberal.

Di segmen keluarga kelas menengah-atas, anak-anak diberi­kan mobil. Sedangkan di segmen bawah menuntut dibelikan se­peda motor meski usianya belum 17 tahun. Kebut-kebutan men­jadi biasa, korban pun sudah sangat sering berjatuhan. Karena mereka bukan siapa-siapa, maka kecelakaan dan kematian yang ditimbulkan tidak masuk dalam orbit media massa. Kematian yang ditimbulkan AQJ dan anak-anak yang jatuh dari sepeda motor lainnya mengirim sinyal penting bagi kita semua.

Business Class

Di pesawat terbang, mungkin hanya di Indonesia, Anda bisa me­nyaksikan banyak keluarga muda membawa anak-anaknya duduk di kelas bisnis. Dua orang babysitter , duduk sedikit di belakang, tak jauh dari batas kelas eksekutif mengawal anak-anak yang sudah bukan bayi lagi itu. Pada masa liburan, bukan hal aneh menemukan keluarga para eksekutif bisnis menunggu di business lounge , dan naik pesawat dengan tiket termahal.

Sayang sekali, anak-anak tersebut belum dididik layaknya ke­las menengah. Berteriak-teriak di antara kalangan bisnis, ma­kan tercecer di jalan, dan memperlakukan pramugari se­perti pembantu di rumah. Sebentar-sebentar bel dipijit, dan pra­mugari bolak-balik sibuk hanya melayani dua orang kakak-ber­adik yang minta segala layanan. Menjelang tiba di tujuan, orangtua baru mulai menyentuh anak-anaknya, dibantu babysitter yang terlihat gelisah.

Jarang ditemui percakapan yang memotivasi, atau mengajar­kan sikap hidup. Paling banter, mereka bermain video games dari iPad orangtuanya. Padahal di luar negeri, iPad adalah alat kerja eksekutif yang dianggap barang mewah.

Jadi, karakter positif anak-anak tak terbentuk. Sikap sosial­nya, termasuk modal dasar sebagai executive functioning dan self regulation tidak terproses dengan baik. Orangtua hanya fo­kus pada kemampuan anak berhitung dan membaca. Padahal, me­reka juga harus pandai mengelola “ air traffic control ” yang ada dalam pikiran anak-anaknya agar kelak mampu menjadi insan mandiri yang bertanggung jawab.

waznd.org

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon